Tuesday, October 2, 2007

ini cuman copy paste

SUKARELA ATAU DUKARELA ?

(edisi ramadhan : sebuah pitutur, di-copy & paste-kan dari tetangga)

Ono konco mengurus pengesahan pendirian Yayasan ke salah satu Pengadilan Negeri di Jakarta. Sebenarnya ke sono cuma minta cap dan tanda tangan thok, tapi karena menjadi syarat ya dilakoni saja. Dan disitulah dia mengalami hal yang kita yakin juga dialami oleh berpuluh juta gundhul di negeri Indonesia Raya ini. Berikut cuplikannya :

xxx : Cap dan tanda tangannya sudah selesai pak?
Oknum : Oo, sudah… ini silakan diambil..
xxx : Biaya administrasinya berapa pak?
Oknum : Terserah… sukarela aja kok..

Begitu diomongi ‘sukarela’ jadi berpikir, berarti gak ada biaya babar pisan. Kebetulan waktu itu ada pengusaha keturunan tionghoa yang juga baru ngurus usahanya menanyakan hal sama. Akhirnya pengusaha itu ngasih limapuluh rebu ripis ke bapak oknum itu.

Oknum : wah.. mosok cuma limapuluh rebu seehh….
Pengusaha : Lha sebenarnya berapa sih pak… katanya sukarela..
Oknum : ya minimal seratus rebu gitulah….
xxx : Kalo gitu saya juga sama pak…???
Oknum : Lha iya laah…

Dasar oknum bangsat!! Judulnya sukarela, tapi akhirnya diambillah biaya siluman itu dengan dukarela. Setelah keluar, di pintu sudah berjejer calon korban ’sukarela’ yang ngantri ditariki uang sukarela yang harus seratus ribu itu.

Sebenarnya kasian juga itu oknum. Sudah makan duit gak jelas, tetep saja gak sugeh-sugeh amat. Malah keliatan mlarat ngempet. Kasian juga anak isterinya di rumah. Diempani duit sukarela, yang diambil dengan penuh dukerela.

Boleh dibilang itu hanya oknum. Tapi herannya kok merata di semua lini. Padahal saat masup jadi pegawai gak ada syarat yang bunyinya “harus mau jadi oknum”. Tapi begitu nyemplung di dunia kepegawaian kok tiba-tiba jadi oknum dengan sukarela. Dari lepel jongos sampai lepel mrongos semuanya oknum.

Lha wong kemaren masup bonbin saja ketemu oknum korup juga. Mbeli tiket 7 lembar, bayar penuh tapi karcisnya diberi cuma 6 lembar. Tapi dikarcis yang paling atas ditulisi dengan angka 7 dengan angka yang guedhi. Trus petugasnya yang juru sobek tiket juga memakluminya. Weeh.. kongkalikong jebulnya.

Lha piye ? wong tiket peron terminal yang 200 ripis aja dikorup dgn sukarela je. Di terminal, cara ngorupnya macem2. Pertamax : gak dikasih tiket peronnya, tapi duitnya diterima dengan sukarela. Keduax : dikasih tiketnya tapi kembaliannya gak dikasihkan. Biasanya 500 ripis, daripada nyusuki 300 ripis mending diemplok dengan sukarela. Ini kelas jongos.

Kalo kelas mrongos lain lagi. Biasanya main di tender proyek-proyek besar. Potongan kisaran 15 sampai 40 persen pun diberlakukan. Sehingga jalannya proyek kalo si kontraktor mau tetep untung ya harus memakai bahan-bahan kelas abal-abal. Kalo itu proyek ngaspal jalan, ya dipakai aspal yang dilewati pit saja jalannya amblong. Kalo itu proyek bikin jalan layang, siap-siap penghuni di bawahnya nyawanya melayang. Kalo itu proyek pengadaan komputer, dicarikanlah komputer jangkrik kelas gangsir, kalo perlu kelas walang kekek. Kalo itu proyek pengadaan kathok kolor, sekali kolor ditarik gak mbalik lagi. Lha gimana kontraktor bisa untung kalo 40 persennya masup ke kantong oknum..? Lha kalo nilai proyeknya 20 milyar, potongannya buat mbeli sego kucing bisa dapet jutaan pincuk.

Padahal kalo oknum-oknum itu mau sedikit paham, sebenarnya kebutuhan manungso itu dikit kok. Yang banyak itu keinginannya. Kalo bicara kebutuhan, manungso itu kan luas permukaan tubuhnya gak sampai 10 meter persegi. Kain yang dibutuhkan juga dikit buat nutup area segitu. Blodot & ususnya volumenya gak gede-gede amat, gak sampai 2 kubik. Tapi kok ya pinginnya gunung tembaga diemplok kabeh, minyak tanah ditenggak semua, semen digaglak semua, jiaan…. blodot kelas wahid.

Padahal sak sugeh-sugehnya manungso, polume ususnya sama dengan yang mlarat ngempet itu. Jadi kalo bicara kebutuhan, manusia itu butuh sedikit untuk hidup fana ini. Yang banyak dan nggladrah itu ‘keinginan’ nya. Kalo orang sudah gak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan, biasanya yang model begini ini berpotensi jadi mburog, kemaruk & nggragas.

Naudzubillah min dzalik.

==============

Wednesday, August 15, 2007

kenapa indonesia ra maju maju


PENGEN tahu alasan mengapa negaraIndonesia gak maju-maju? 1. Jml penduduk Indonesia ada 237 juta. 104 jutadiantaranya adalah para pensiun. Jadi tinggal 133 juta yang bisa kerja. 2. Jml pelajar dan mahasiswa adalah 85 juta. Mereka sekolah, jaditinggal48 juta orang yang bisa kerja. 3. Yang kerja buat pemerintah pusat sebagai pegawai negeri ada 29 juta.Jadi tinggal 19 juta yang bisa kerja.4. Ada 4 juta yg jadi TNI/POLRI. Jadi tinggal 15 juta yg bisa kerja. 5. Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen jumlahnya14.800.000. jadi sisanya tingal 200.000 yang bisa kerja. 6. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh Indonesia ada188.000. Jadi sisa 12.000 orang yang bisa kerja. 7. Ada 11.988 orang yg dipenjara. Jadi tinggal sisa dua orang saja yang masih bisa kerja.
SIAPA MEREKA ....?Yaa,... tentu saja SAYA dan ANDA.
Tapi kan... ANDA malah sibuk baca BLOG saya..Jadi tinggal SAYA SENDIRI YANG BEKERJA.!!!!!!Bagaimana Indonesia bisa maju kalau cuma saya sendiri yang bekerja?????????

MATEMATIKA LOGIKA DAN SEDEKAH

Matematika Gaji dan Logika Sedekah

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu kakak kelas sayan ini ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.
Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.
Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.
Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.
Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA.
Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.
"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."
"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"
"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."
"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"
"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.
"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."
Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?
"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.
"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."
Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.
Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.
“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.
“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun
Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.
***
Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Thursday, May 3, 2007

+ or -


"Knowing others is wisdom, knowing yourself is enlightenment." Lao Tzu

"Pak, sebenarnya apa sih yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?"

Jujur, saya cukup kaget saat mendapat pertanyaan seperti ini. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Namun baru kali ini saya harus berpikir secara mendalam mengenai esensi positive thinking dan negative thinking. Selama ini kita selalu yakin dan percaya bahwa positive thinking adalah pikiran yang "positif" dan "bermanfaat" bagi kita. Sedangkan negative thinking adalah pikiran yang negatif dan merugikan diri kita. Kita mengamini hal ini karena ini yang kita pelajari dari berbagai pembicara terkenal, buku-buku pengembangan diri, dan dari berbagai seminar atau workshop.

Setelah diam sejenak untuk berpikir saya lalu menjawab seperti yang saya tulis pada paragraf di atas, "Pikiran positif adalah pikiran yang bermanfaat sedangkan pikiran negatif adalah pikiran yang merugikan diri kita".

Jawaban saya tampaknya sudah benar. Namun saya sadar bahwa jawaban yang saya berikan masih kurang lengkap. Ada dorongan dalam hati saya untuk memperdalam analisis saya terhadap jawaban yang saya berikan.

Malam hari, saat sendirian di kamar hotel, saya duduk dan memikirkan dengan mendalam pertanyaan yang diajukan peserta tadi siang, "Sebenarnya apa yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?"

Saat saya merenungkan pertanyaan ini saya langsung teringat dengan berbagai peristiwa yang telah saya alami dalam hidup saya. Saya juga telah mempraktekkan positive thinking. Teman-teman saya juga begitu. Saya teringat pada artikel yang saya tulis yang berjudul "Bahaya Berpikir Positif" yang sempat menjadi kontroversi.

Ternyata positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih sukses. Positive thinking dan negative thinking masih dipengaruhi oleh persepsi dan keterbatassan pola pikir kita sendiri. Apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang positif ternyata belum tentu positif. Bisa jadi, kita merasa atau yakin pikiran ini positif karena berdasar pada asumsi atau paradigma berpikir yang salah, yang masih dipengaruhi oleh belief system kita, yang kita yakini sebagai hal yang benar. Jadi kita merasa telah berpikir positif atau positive thinking. Padahal belum tentu yang kita lakukan adalah positive thinking.

Kita harus bergerak dari negative thinking ke positive thinking dan akhirnya mencapai right thinking. Mengapa right thinking? Right thinking adalah mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, apa tujuan hidup kita yang tertinggi, apa misi hidup kita di dunia ini, dan menyelaraskan diri dengan hukum abadi yang mengatur alam semesta. Right thinking juga berarti kita berpikir dengan dasar Kebenaran dan menjadi dasar dari semua proses dan level berpikir lainnya.

Right thinking berasal dari kesadaran akan kebenaran atau dari realitas yang sesungguhnya dari setiap situasi yang kita hadapi. Right thinking membuat kita mampu melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa terpengaruh emosi sehingga kita bersikap netral.

Mungkin sampai di sini anda merasa bingung? Ok, saya beri contoh.Misalnya ada orang yang menghina kita. Apa yang kita lakukan? Kalau negative thinking maka kita pasti akan marah besar. Semakin berkobar emosi kita maka akan semakin negatif kita jadinya. Emosi yang dipicu oleh negative thinking ibarat bensin yang disiramkan ke kobaran api. Kita menyalahkan orang yang telah menghina kita. Pokoknya, orang ini yang salah, titik.

Kita, biasanya, akan berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan positive thinking. Apa yang kita lakukan? Kita berusaha berpikir positif, berusaha memaafkan, berusaha mengerti, melakukan reframing, berusaha mengendalikan emosi kita, berusaha mencari hal-hal positif dari kejadian ini.

Bagaimana dengan right thinking? Dengan right thinking kita mencari kebenaran dari apa yang kita alami. Kita harus melampaui belief system kita untuk bisa menggunakan right thinking. Tanyakan kepada diri kita, "Kebenaran apa yang terkandung dalam kejadian ini?"

Saat kita mendapat jawaban dari hati nurani kita dan kita melakukan tindakan berdasar jawaban yang kita peroleh maka pada saat itu kita telah menggunakan right thinking.

Right thinking berarti kita menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah yang menggerakkan pikiran kita. Kita mencipta realita hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita alami, hal yang baik maupun yang buruk.

Saat seseorang menghina kita, apakah benar bahwa "kita" yang dihina? Coba tanyakan pada diri kita secara jujur. "Sebenarnya siapa sih yang dihina? Apakah benar saya dihina? Bagian mana dari diri saya yang merasa dihina?"

Kalau kita menggunakan right thinking maka kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak dihina. Tidak ada seorang pun yang bias menghina kita. Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah memberikan makna terhadap kejadian itu, berdasar pada asumsi, persepsi, pengalaman hidup di masa lalu, belief system, dan value kita, yang mengakibatkan munculnya emosi negatif. Eleanor Roosevelt dengan sangat bijak berkata, "No one can make you feel inferior without your consent."

OK, anda mungkin berkata, "Lha, tapi kita kan tetap tersinggung karena dihina." Kalau anda tetap bersikeras dengan pendapat ini, baiklah, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan pada anda, "Siapakah yang tersinggung atau merasa terhina? Aku? Saya? Aku yang mana? Bagian mana dari diri saya yang tersinggung?"

Kalau kita mau jujur maka yang sebenarnya "kena" adalah perasaan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, "Apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Apakah perasaan kita adalah diri kita?" Tentu tidak. Perasaan, sama dengan pikiran, akan selalu timbul dan tenggelam, tidak abadi, dan sudah tentu bukan diri kita.

Tuesday, May 1, 2007

Meminta & Memberi

Mentalitas Memberi Vs Meminta

Seorang teman yang seringkali menerima email saya pernah mengatakan, "Mengapa kamu senang menulis dan mengirimkan tulisan ke berbagai milis? Bukankah membuang-buang waktu saja dan nggak mendapatkan apa-apa dari menulis di milis, alias nggak ada uangnya?". Dalam benak pikiran teman saya ini, kalau tidak ada imbalannya uangnya, buat apa dikerjakan. Baginya melakukan sesuatu kepada orang lain, harus selalu diukur dengan mendapatkan imbalan uang.

Seorang kenalan lain, setiap ketemu isi pembicaraannya adalah bagaimana caranya kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Misalnya, dia mengajak saya makan siang, begitu selesai makan dan waktunya membayar, selalu ada saja alasannya untuk tidak membayar. Di lain waktu dia datang ke meja saya dengan bangga mengatakan," Aku baru saja ditraktir makan sama Anto di bakmi vietnam di Sabang, enak lho." Ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali dan dengan banyak teman lainnya. Dalam hati saya, "hah, yang benar saja, dibayarin orang lain kok membanggakan diri." Anehnya, kenalan ini adalah seorang manager yang berpendidikan tinggi, yang jelas-jelas tidak kesulitan keuangan karena memiliki penghasilan yang cukup.

Saya yakin andapun dengan mudah akan menemukan orang-orang model seperti ini. Mungkin ada tetangga yang kalau didatangi untuk dimintai sumbangan sosial, susahnya minta ampun. Namun pada saat dia ada keperluan, dengan seenaknya meminta tolong ke orang lain, misalnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mendahulukan meminta, bukan memberi. Mereka mengukur segala sesuatu dengan hasil yang didapatkannya, melakukan sesuatu harus ada uangnya. Mungkin semboyannya adalah, "kalau bisa meminta, kenapa harus beli." Inilah yang saya sebut sebagai orang-orang yang memiliki Mentalitas Meminta.

Mentalitas Meminta, biasanya didasari oleh kekawatiran dalam dirinya akan kekurangan dan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti. Pikirannya dipenuhi kekawatiran, kalau banyak memberi akan menjadi kekurangan. Akibatnya kelompok ini senang mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan, ilmu untuk dirinya sendiri. Memikirkan orang lain harus ada imbalannya. Inilah pribadi-pribadi egois yang memiliki mentalitas meminta.

Dalam kehidupan ini saya belum pernah menemukan orang-orang yang memiliki mentalitas meminta seperti ini menjadi berhasil dan sukses. Karena biasanya dalam dunia bisnis, dalam pekerjaan mereka mengembangkan kompetisi yang cenderung menjatuhkan orang lain, merendahkan orang lain dan tidak jarang dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Sebagai karyawan, sebagai pengusaha, sebagai pegawai, mereka selalu mendahulukan meminta hak-haknya dan seringkali tidak memperhatikan kewajibannya. Inilah ciri-ciri mental para "loser".

Bagaimana dengan mentalitas memberi? Mereka yang memiliki mentalitas memberi berkeyakinan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak kesempatan hidup diluar sana yang tidak akan serba kekurangan. Mereka berkeyakinan seolah-olah ada begitu banyak kue kehidupan yang berlimpah, yang tidak akan pernah habis untuk dibagi-bagi dengan banyak orang. Mereka berkeyakinan memberi dan berbagi adalah bentuk pelepasan energi positif dari dalam dirinya untuk orang lain dan alam semesta. Sehingga dalam berhubungan dengan orang lain selalu berprinisp mendahulukan memberi, bukan meminta.

Banyak bukti-bukti keberhasilan bagi mereka yang memiliki mentalitas memberi. Kalau ukurannya dalam bidang spiritual, lihatlah sosok seperti A'a Gymnastiar yang memiliki kesuksesan dengan senantiasa berbagi ilmu dan tausyiahnya dimana-mana. Demikian juga dnegan sosok ustad Arifin Ilham, dengan keikhlasannya senantiasa memberi dan berbagi ilmu dengan orang lain. Kalau ukurannya materi duniawi, boleh dilihat para entertainer yang memiliki pekerjaan dengan memberikan pelayanan melalui hiburan, seperti Krisdayanti, Tamara Blezynski, atau Samsons.

Mereka memberikan pelayanan kepada orang lain melalui menyanyi, berakting, dll. Pada umumnya mereka mendapatkan bayaran yang lebih tinggi dibandingkan lainnya. Kalau ukurannya adalah kepuasan batin, lihatlah mereka yang pekerjaannya memiliki idealisme dalam pelayanan untuk banyak orang, kegiatan sosial, dll. Mereka merasakan kebahagiaan yang menyentuh nilai-nilai spiritual yang merupakan kebahagiaan tertinggi dalam hati.

Kalau kita ingin berhasil meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup ini, mulailah mengubah mentalitas diri kita menjadi Mentalitas Memberi. Berikan segenap karunia potensi yang anda miliki, keluarkan potensi spiritual yang anda miliki, untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kewajiban hidup kita bukan hanya mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga mensejahterakan kehidupan orang lain.

Hal ini sesuai dengan wujud ihsan manusia kepada sifat-sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyanang. Rasakan kehidupan akan memberikan kemudahan-kemudahan yang tak terduga untuk Anda.