Tuesday, May 1, 2007

Meminta & Memberi

Mentalitas Memberi Vs Meminta

Seorang teman yang seringkali menerima email saya pernah mengatakan, "Mengapa kamu senang menulis dan mengirimkan tulisan ke berbagai milis? Bukankah membuang-buang waktu saja dan nggak mendapatkan apa-apa dari menulis di milis, alias nggak ada uangnya?". Dalam benak pikiran teman saya ini, kalau tidak ada imbalannya uangnya, buat apa dikerjakan. Baginya melakukan sesuatu kepada orang lain, harus selalu diukur dengan mendapatkan imbalan uang.

Seorang kenalan lain, setiap ketemu isi pembicaraannya adalah bagaimana caranya kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Misalnya, dia mengajak saya makan siang, begitu selesai makan dan waktunya membayar, selalu ada saja alasannya untuk tidak membayar. Di lain waktu dia datang ke meja saya dengan bangga mengatakan," Aku baru saja ditraktir makan sama Anto di bakmi vietnam di Sabang, enak lho." Ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali dan dengan banyak teman lainnya. Dalam hati saya, "hah, yang benar saja, dibayarin orang lain kok membanggakan diri." Anehnya, kenalan ini adalah seorang manager yang berpendidikan tinggi, yang jelas-jelas tidak kesulitan keuangan karena memiliki penghasilan yang cukup.

Saya yakin andapun dengan mudah akan menemukan orang-orang model seperti ini. Mungkin ada tetangga yang kalau didatangi untuk dimintai sumbangan sosial, susahnya minta ampun. Namun pada saat dia ada keperluan, dengan seenaknya meminta tolong ke orang lain, misalnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mendahulukan meminta, bukan memberi. Mereka mengukur segala sesuatu dengan hasil yang didapatkannya, melakukan sesuatu harus ada uangnya. Mungkin semboyannya adalah, "kalau bisa meminta, kenapa harus beli." Inilah yang saya sebut sebagai orang-orang yang memiliki Mentalitas Meminta.

Mentalitas Meminta, biasanya didasari oleh kekawatiran dalam dirinya akan kekurangan dan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti. Pikirannya dipenuhi kekawatiran, kalau banyak memberi akan menjadi kekurangan. Akibatnya kelompok ini senang mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan, ilmu untuk dirinya sendiri. Memikirkan orang lain harus ada imbalannya. Inilah pribadi-pribadi egois yang memiliki mentalitas meminta.

Dalam kehidupan ini saya belum pernah menemukan orang-orang yang memiliki mentalitas meminta seperti ini menjadi berhasil dan sukses. Karena biasanya dalam dunia bisnis, dalam pekerjaan mereka mengembangkan kompetisi yang cenderung menjatuhkan orang lain, merendahkan orang lain dan tidak jarang dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Sebagai karyawan, sebagai pengusaha, sebagai pegawai, mereka selalu mendahulukan meminta hak-haknya dan seringkali tidak memperhatikan kewajibannya. Inilah ciri-ciri mental para "loser".

Bagaimana dengan mentalitas memberi? Mereka yang memiliki mentalitas memberi berkeyakinan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak kesempatan hidup diluar sana yang tidak akan serba kekurangan. Mereka berkeyakinan seolah-olah ada begitu banyak kue kehidupan yang berlimpah, yang tidak akan pernah habis untuk dibagi-bagi dengan banyak orang. Mereka berkeyakinan memberi dan berbagi adalah bentuk pelepasan energi positif dari dalam dirinya untuk orang lain dan alam semesta. Sehingga dalam berhubungan dengan orang lain selalu berprinisp mendahulukan memberi, bukan meminta.

Banyak bukti-bukti keberhasilan bagi mereka yang memiliki mentalitas memberi. Kalau ukurannya dalam bidang spiritual, lihatlah sosok seperti A'a Gymnastiar yang memiliki kesuksesan dengan senantiasa berbagi ilmu dan tausyiahnya dimana-mana. Demikian juga dnegan sosok ustad Arifin Ilham, dengan keikhlasannya senantiasa memberi dan berbagi ilmu dengan orang lain. Kalau ukurannya materi duniawi, boleh dilihat para entertainer yang memiliki pekerjaan dengan memberikan pelayanan melalui hiburan, seperti Krisdayanti, Tamara Blezynski, atau Samsons.

Mereka memberikan pelayanan kepada orang lain melalui menyanyi, berakting, dll. Pada umumnya mereka mendapatkan bayaran yang lebih tinggi dibandingkan lainnya. Kalau ukurannya adalah kepuasan batin, lihatlah mereka yang pekerjaannya memiliki idealisme dalam pelayanan untuk banyak orang, kegiatan sosial, dll. Mereka merasakan kebahagiaan yang menyentuh nilai-nilai spiritual yang merupakan kebahagiaan tertinggi dalam hati.

Kalau kita ingin berhasil meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup ini, mulailah mengubah mentalitas diri kita menjadi Mentalitas Memberi. Berikan segenap karunia potensi yang anda miliki, keluarkan potensi spiritual yang anda miliki, untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kewajiban hidup kita bukan hanya mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga mensejahterakan kehidupan orang lain.

Hal ini sesuai dengan wujud ihsan manusia kepada sifat-sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyanang. Rasakan kehidupan akan memberikan kemudahan-kemudahan yang tak terduga untuk Anda.

No comments: