Thursday, May 3, 2007

+ or -


"Knowing others is wisdom, knowing yourself is enlightenment." Lao Tzu

"Pak, sebenarnya apa sih yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?"

Jujur, saya cukup kaget saat mendapat pertanyaan seperti ini. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Namun baru kali ini saya harus berpikir secara mendalam mengenai esensi positive thinking dan negative thinking. Selama ini kita selalu yakin dan percaya bahwa positive thinking adalah pikiran yang "positif" dan "bermanfaat" bagi kita. Sedangkan negative thinking adalah pikiran yang negatif dan merugikan diri kita. Kita mengamini hal ini karena ini yang kita pelajari dari berbagai pembicara terkenal, buku-buku pengembangan diri, dan dari berbagai seminar atau workshop.

Setelah diam sejenak untuk berpikir saya lalu menjawab seperti yang saya tulis pada paragraf di atas, "Pikiran positif adalah pikiran yang bermanfaat sedangkan pikiran negatif adalah pikiran yang merugikan diri kita".

Jawaban saya tampaknya sudah benar. Namun saya sadar bahwa jawaban yang saya berikan masih kurang lengkap. Ada dorongan dalam hati saya untuk memperdalam analisis saya terhadap jawaban yang saya berikan.

Malam hari, saat sendirian di kamar hotel, saya duduk dan memikirkan dengan mendalam pertanyaan yang diajukan peserta tadi siang, "Sebenarnya apa yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?"

Saat saya merenungkan pertanyaan ini saya langsung teringat dengan berbagai peristiwa yang telah saya alami dalam hidup saya. Saya juga telah mempraktekkan positive thinking. Teman-teman saya juga begitu. Saya teringat pada artikel yang saya tulis yang berjudul "Bahaya Berpikir Positif" yang sempat menjadi kontroversi.

Ternyata positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih sukses. Positive thinking dan negative thinking masih dipengaruhi oleh persepsi dan keterbatassan pola pikir kita sendiri. Apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang positif ternyata belum tentu positif. Bisa jadi, kita merasa atau yakin pikiran ini positif karena berdasar pada asumsi atau paradigma berpikir yang salah, yang masih dipengaruhi oleh belief system kita, yang kita yakini sebagai hal yang benar. Jadi kita merasa telah berpikir positif atau positive thinking. Padahal belum tentu yang kita lakukan adalah positive thinking.

Kita harus bergerak dari negative thinking ke positive thinking dan akhirnya mencapai right thinking. Mengapa right thinking? Right thinking adalah mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, apa tujuan hidup kita yang tertinggi, apa misi hidup kita di dunia ini, dan menyelaraskan diri dengan hukum abadi yang mengatur alam semesta. Right thinking juga berarti kita berpikir dengan dasar Kebenaran dan menjadi dasar dari semua proses dan level berpikir lainnya.

Right thinking berasal dari kesadaran akan kebenaran atau dari realitas yang sesungguhnya dari setiap situasi yang kita hadapi. Right thinking membuat kita mampu melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa terpengaruh emosi sehingga kita bersikap netral.

Mungkin sampai di sini anda merasa bingung? Ok, saya beri contoh.Misalnya ada orang yang menghina kita. Apa yang kita lakukan? Kalau negative thinking maka kita pasti akan marah besar. Semakin berkobar emosi kita maka akan semakin negatif kita jadinya. Emosi yang dipicu oleh negative thinking ibarat bensin yang disiramkan ke kobaran api. Kita menyalahkan orang yang telah menghina kita. Pokoknya, orang ini yang salah, titik.

Kita, biasanya, akan berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan positive thinking. Apa yang kita lakukan? Kita berusaha berpikir positif, berusaha memaafkan, berusaha mengerti, melakukan reframing, berusaha mengendalikan emosi kita, berusaha mencari hal-hal positif dari kejadian ini.

Bagaimana dengan right thinking? Dengan right thinking kita mencari kebenaran dari apa yang kita alami. Kita harus melampaui belief system kita untuk bisa menggunakan right thinking. Tanyakan kepada diri kita, "Kebenaran apa yang terkandung dalam kejadian ini?"

Saat kita mendapat jawaban dari hati nurani kita dan kita melakukan tindakan berdasar jawaban yang kita peroleh maka pada saat itu kita telah menggunakan right thinking.

Right thinking berarti kita menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah yang menggerakkan pikiran kita. Kita mencipta realita hidup kita. Kita bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita alami, hal yang baik maupun yang buruk.

Saat seseorang menghina kita, apakah benar bahwa "kita" yang dihina? Coba tanyakan pada diri kita secara jujur. "Sebenarnya siapa sih yang dihina? Apakah benar saya dihina? Bagian mana dari diri saya yang merasa dihina?"

Kalau kita menggunakan right thinking maka kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak dihina. Tidak ada seorang pun yang bias menghina kita. Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah memberikan makna terhadap kejadian itu, berdasar pada asumsi, persepsi, pengalaman hidup di masa lalu, belief system, dan value kita, yang mengakibatkan munculnya emosi negatif. Eleanor Roosevelt dengan sangat bijak berkata, "No one can make you feel inferior without your consent."

OK, anda mungkin berkata, "Lha, tapi kita kan tetap tersinggung karena dihina." Kalau anda tetap bersikeras dengan pendapat ini, baiklah, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan pada anda, "Siapakah yang tersinggung atau merasa terhina? Aku? Saya? Aku yang mana? Bagian mana dari diri saya yang tersinggung?"

Kalau kita mau jujur maka yang sebenarnya "kena" adalah perasaan kita. Pertanyaan selanjutnya adalah, "Apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Apakah perasaan kita adalah diri kita?" Tentu tidak. Perasaan, sama dengan pikiran, akan selalu timbul dan tenggelam, tidak abadi, dan sudah tentu bukan diri kita.

Tuesday, May 1, 2007

Meminta & Memberi

Mentalitas Memberi Vs Meminta

Seorang teman yang seringkali menerima email saya pernah mengatakan, "Mengapa kamu senang menulis dan mengirimkan tulisan ke berbagai milis? Bukankah membuang-buang waktu saja dan nggak mendapatkan apa-apa dari menulis di milis, alias nggak ada uangnya?". Dalam benak pikiran teman saya ini, kalau tidak ada imbalannya uangnya, buat apa dikerjakan. Baginya melakukan sesuatu kepada orang lain, harus selalu diukur dengan mendapatkan imbalan uang.

Seorang kenalan lain, setiap ketemu isi pembicaraannya adalah bagaimana caranya kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Misalnya, dia mengajak saya makan siang, begitu selesai makan dan waktunya membayar, selalu ada saja alasannya untuk tidak membayar. Di lain waktu dia datang ke meja saya dengan bangga mengatakan," Aku baru saja ditraktir makan sama Anto di bakmi vietnam di Sabang, enak lho." Ini bukan hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi berkali-kali dan dengan banyak teman lainnya. Dalam hati saya, "hah, yang benar saja, dibayarin orang lain kok membanggakan diri." Anehnya, kenalan ini adalah seorang manager yang berpendidikan tinggi, yang jelas-jelas tidak kesulitan keuangan karena memiliki penghasilan yang cukup.

Saya yakin andapun dengan mudah akan menemukan orang-orang model seperti ini. Mungkin ada tetangga yang kalau didatangi untuk dimintai sumbangan sosial, susahnya minta ampun. Namun pada saat dia ada keperluan, dengan seenaknya meminta tolong ke orang lain, misalnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mendahulukan meminta, bukan memberi. Mereka mengukur segala sesuatu dengan hasil yang didapatkannya, melakukan sesuatu harus ada uangnya. Mungkin semboyannya adalah, "kalau bisa meminta, kenapa harus beli." Inilah yang saya sebut sebagai orang-orang yang memiliki Mentalitas Meminta.

Mentalitas Meminta, biasanya didasari oleh kekawatiran dalam dirinya akan kekurangan dan kecemasan tentang masa depan yang belum pasti. Pikirannya dipenuhi kekawatiran, kalau banyak memberi akan menjadi kekurangan. Akibatnya kelompok ini senang mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan, ilmu untuk dirinya sendiri. Memikirkan orang lain harus ada imbalannya. Inilah pribadi-pribadi egois yang memiliki mentalitas meminta.

Dalam kehidupan ini saya belum pernah menemukan orang-orang yang memiliki mentalitas meminta seperti ini menjadi berhasil dan sukses. Karena biasanya dalam dunia bisnis, dalam pekerjaan mereka mengembangkan kompetisi yang cenderung menjatuhkan orang lain, merendahkan orang lain dan tidak jarang dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Sebagai karyawan, sebagai pengusaha, sebagai pegawai, mereka selalu mendahulukan meminta hak-haknya dan seringkali tidak memperhatikan kewajibannya. Inilah ciri-ciri mental para "loser".

Bagaimana dengan mentalitas memberi? Mereka yang memiliki mentalitas memberi berkeyakinan bahwa dalam kehidupan ini begitu banyak kesempatan hidup diluar sana yang tidak akan serba kekurangan. Mereka berkeyakinan seolah-olah ada begitu banyak kue kehidupan yang berlimpah, yang tidak akan pernah habis untuk dibagi-bagi dengan banyak orang. Mereka berkeyakinan memberi dan berbagi adalah bentuk pelepasan energi positif dari dalam dirinya untuk orang lain dan alam semesta. Sehingga dalam berhubungan dengan orang lain selalu berprinisp mendahulukan memberi, bukan meminta.

Banyak bukti-bukti keberhasilan bagi mereka yang memiliki mentalitas memberi. Kalau ukurannya dalam bidang spiritual, lihatlah sosok seperti A'a Gymnastiar yang memiliki kesuksesan dengan senantiasa berbagi ilmu dan tausyiahnya dimana-mana. Demikian juga dnegan sosok ustad Arifin Ilham, dengan keikhlasannya senantiasa memberi dan berbagi ilmu dengan orang lain. Kalau ukurannya materi duniawi, boleh dilihat para entertainer yang memiliki pekerjaan dengan memberikan pelayanan melalui hiburan, seperti Krisdayanti, Tamara Blezynski, atau Samsons.

Mereka memberikan pelayanan kepada orang lain melalui menyanyi, berakting, dll. Pada umumnya mereka mendapatkan bayaran yang lebih tinggi dibandingkan lainnya. Kalau ukurannya adalah kepuasan batin, lihatlah mereka yang pekerjaannya memiliki idealisme dalam pelayanan untuk banyak orang, kegiatan sosial, dll. Mereka merasakan kebahagiaan yang menyentuh nilai-nilai spiritual yang merupakan kebahagiaan tertinggi dalam hati.

Kalau kita ingin berhasil meraih kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup ini, mulailah mengubah mentalitas diri kita menjadi Mentalitas Memberi. Berikan segenap karunia potensi yang anda miliki, keluarkan potensi spiritual yang anda miliki, untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Kewajiban hidup kita bukan hanya mensejahterakan diri sendiri, tetapi juga mensejahterakan kehidupan orang lain.

Hal ini sesuai dengan wujud ihsan manusia kepada sifat-sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyanang. Rasakan kehidupan akan memberikan kemudahan-kemudahan yang tak terduga untuk Anda.